Sabtu, 09 Juni 2012

PERANAN SEKOLAH DALAM MENANAMKAN AHLAKUL KARIMAH DAN KECERDASAN INTELEKTUAL , SPIRITUL DAN EMOSIONAL GURU DAN SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI (SMPN I ) JATIPURNO WONOGORI TAHUN AJARAN 2012/2013 (PROPOSAL)


BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu lembaga sosial tertua yang selalu mengalami dampak perubahan- perubahan di dalam masyarakat. Dengan adanya perkembangan sistem komunikasi dan informasi akhir- akhir ini, perkembangan  ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan pengaruh yang menyebar ke seluruh dunia.
Perkembangan teknologi menunjukkan dampak yang lebih besar terhadap keadaan masyarakat secara keseluruhan. Jika konsep- konsep baru pada bidang ilmu pengetahuan itu diimbangi oleh pengembangan teknologi tepat guna serta penanaman nilai-nilai profetis, yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam  kehidupan manusia,  maka dapat dipastikan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan itu akan mempunyai dampak yang signifikan dengan dunia pendidikan.
Pembangunan dengan paradigma ideologi- ideologi modern yang menjanjikan kemajuan  yang menggiurkan dalam ilmu dan teknologi serta pertumbuhan ekonomi. Namun di balik itu, muncul realitas- realitas yang menggerogoti martabat manusia, adanya pergeseran nilai, ekslusivisme- radikal berkedok agama dan penyimpangan perilaku keagamaan, sehingga lahir apa yang disebut “nestapa manusia modern” yang hidup serba dilematis, hipokrit dan materialistik.[1]
Filusuf  Post modern Jean Baudrillard menyatakan bahwa dunia yang dilanda demam globalisasi berimplikasi pada pergeseran nilai. Era ini ditandai dengan mencairnya batas- batas normatif sehingga apa yang dinamakan “tabu” atau sakral menjadi semakin hilang, semua persoalan dan informasi menjadi ranah publik yang bebas diperbincangkan dan dikonsumsi secara umum. Persoalan yang dalam perspektif sosial keagamaan masuk kedalam wilayah tabu dan sakral, saat ini terdekonstruksi secara massif. Manusia dilihat hanya sebagai simbolisasi angka- angka statistik demografis yang dipandang dan dihadirkan tanpa perasaan dan hati nurani. Jiwa manusia direduksi sedemikian rupa bagaikan sosok- sosok robot mekanis yang tunduk (deterministik) pada kekuatan pasar, mesin industri dan mekanisme birokrasi.[2]
Dewasa ini peran agama seringkali kita jumpai hanya sebagai sesuatu yang  dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, agama  bukan untuk tuntunan kehidupan, agama hanya something to use but not to live. Tidak dapat diingkari, saat ini justru  nilai- nilai keagamaan-lah yang mengalami erosi, pengikisan yang paling dahsyat, penghargaan atas kebebasan beragama terdistorsi oleh maraknya eklusivisme-radikal yang kian massif, pola hidup konsumtif yang sebenarnya ditolak oleh agama manapun justru kian hari kian berkembang, tanpa diimbangi oleh kemampuan yang cukup untuk meningkatkan produktifitas kerja kita, sehingga semakin mendorong dan meluasnya budaya korupsi. Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama hanya digunakan untuk menunjang motif- motif lain; kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri.
Gordon W. Allport menyatakan cara beragama seperti sebagai cara beragama yang ekstrinsik dan erat kaitannya dengan penyakit mental.[3] Agama sejatinya menjadi landasan spiritual, etik bagi kehidupan manusia dalam dunia modern ini. Daniel Bell seorang sosiolog mengatakan kalau agama dituntut untuk memberikan jawaban secara matematis dan praktis jelas tidak bisa, namun agama mempunyai kemampuan responsi secara moral terhadap persoalan- persoalan modern dewasa ini.[4]
Thomas Merton, dalam bukunya Mysticism in the Nuclear Age, berkata : “ Anda tidak dapat mendatangkan kedamaian tanpa disertai amal saleh. Anda tidak dapat memperoleh tatanan sosial tanpa kehadiran kaum mistik, orang- orang suci dan nabi- nabi”.[5]
Pendapat Merton diatas menunjukkan bahwa dalam beragama dituntut -hadirnya- perilaku yang sesuai dengan nilai- nilai ajaran agama. Sungguh mustahil agama hadir tanpa wujud, tanpa adanya moralitas perbuatan, hal ini karena agama dan perbuatan bagaikan satu kesatuan yang utuh, saling berkaitan dalam kehidupan beragama manusia. Oleh karena itu, persoalannya bukanlah usaha menghindari permasalahah, tetapi justru perlunya menghadapi permasalahan itu secara cerdas dengan mengidentifikasi dan memahami substansinya untuk kemudian dicari solusinya dan pendidikan merupakan upaya untuk memberikan panduan dan memandu manusia dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik bermartabat dan bermanfaat bagi diri, masyarakat dan lingkungannya.
Pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup. Dengan kata lain, pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi berlangsung pula di luar kelas. Secara umum pendidikan dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadian sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.
Pendidikan sebagai upaya untuk memberikan solusi perkembangan dan perubahan kemanusiaan secara dinamik dan gradual berkaitan erat dengan sekolah utamanya sekolah formal. Sekolah sebagai proses pengembangan kepribadian peserta didik  berusaha memberikan bantuan kepada peserta didik untuk mengembangkan dirinya secara utuh berdasarkan kasih. Sekolah berdiri diantara peserta didik dan Tuhan yang memberinya tanggungjawab. Sekolah dengan berbagai upaya dan seluruh elemen sekolah  yang terus- menerus membimbing, memproses dan mengantarkan peserta didik kearah pengenalan akan ciptaan Tuhan dengan segala hukum- hukumNya.
Dalam Pasal I UU Sisdiknas Tahun 2003 disebutkan  bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Dengan demikian pendidikan tidak hanya membentuk insan cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter kuat dan berakhlak mulia yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa dan agama.
Fungsi utama pendidikan bila ditinjau dari sudut pandang sosiologi dan antropologi adalah untuk menumbuhkan kriativitas peserta didik, dan menanamkan nilai yang baik. Menurut pandangan manusia dan Tuhan Yang Maha Esa.[6]
Tujuan Pendidikan di Indonesia dituangkan dalam Tujuan Pendidikan Nasional yang diidealisasikan sebagaimana termuat dalam UU-RI No.2 Tahun 1989, Pasal 4, di mana,”Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya,yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,memiliki pengetahuan dan ketrampilan,kepribadian yang mantap dan mandiri,serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.[7]
Jika idealisasi itu menjelma dalam realita, maka arus siswa akan memasuki pendidikan per-jenjang, dan tatkala mereka lulus, mereka akan menjadi modal utama lahirnya Sumber Daya Manusia yang terampil, duduk pada jajaran terdepan, memiliki moralitas tertinggi. Dan tatkala mereka duduk dalam jajaran birokrasi pada tingkat manapun, komitmen moral yang dimiliki makin kokoh dengan diikat sumpah jabatan.
Disaat  gelombang arus modernisasi menerpa  pada peserta didik maka sekolah  sebagai ujung tombak pendidikan, kerap kali melakukan hal-hal yang jelas-jelas tidak mencermikan pendidikan dan juga banyak sekali guru sebagai ujung tombak pendidikan  melanggar sumpah jabatanya. Maka tak ayal lagi, efek moral yang ditimbulkanya,akan menjadi bumerang bagi peserta didik.
Para ahli pendidikan Islam telah sepakat bahwa maksud dari pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak peserta didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, tetapi maksudnya ialah mendidik ahlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah (keutamaan), membiasakan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur. Oleh karena itu semua pendidik hendaklah memperhatikan ahlak keagamaan sebelum yang lain-lainya. Karena ahlak keagamaan adalah ahlak yang tertinggi, sedang ahlak yang mulia itu adalah tiang dari pendidikan Islam.
Namun fakta dilapangan menununjukan fenomena yang lain, dimana sekolah yang semestinya mengembangkan potensi setiap peserta didik akan tetapi, kerap sekali sekolah lewat lingkungan dan pergaulan memberikan contoh-contoh yang kurang baik pada peserta didik, apakah itu disengaja ataupun tidak disengaja, baik berupa ucapan tindakan ataupun tingkah laku yang terbangun dalam lingkungan sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan, dan seluruh pihak yang terlibat di suatu sekolah.
Sebagai pelaku kedua setelah pendidikan keluarga, maka sekolah seharusnya menyadari apa yang harus dilakukan sehubungan dengan tugas dan kewajibanya. Namun banyak sekali sekolah (seluruh elemen sekolah) yang tidak memahami tugasnya.  Bahkan sebagai pelaku utama ada sebagian guru yang berasumsi tugas mendidik perilaku keagamaan itu hanya dibebankan pada guru agama saja. Paradigma tujuan diatas menyebabkan guru mengira bahwa pendidikan searti dengan pengajaran yang tujuanya memperoleh ilmu pengetahuan, atau lulus ujian. Sehingga sekolah hanya berusaha semaksimal mungkin mentrasfer ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada peserta didik dan memenuhkan ingatanya dengan intisari pelajaran. Sehingga nantinya memungkinkan mencapai kesuksesan dalam ujian. Pengertian lebih sempit dari itu ialah intinya ilmu itu dapat dipergunakan  apa saja, sehingga ilmu itu akan bisa membahayakan bagi siapa saja.[8]
Pola pembelajaran yang cenderung berporos pada pengembangan superioritas tunggal (memacu prestasi belajar akademik) adalah salah satu kerancuan praksis pendidikan. Hal ini ditandai dengan sistim pembelajaran yang tidak terindividualisasikan, praksis pragmatis pendidikan dengan mengejar skor melalui latihan, komunikasi guru murid cenderung satu arah, dan pengorganisasian pembelajaran cenderung hanya mempermudah kerja di lingkungan sekolah dan sebagainya.
Asumsi dasarnya adalah makin tinggi intensitas otak intelektual, makin tinggi pula keberhasilan pendidikan. Bentuk riilnya seperti pelatihan mengerjakan soal, kegiatan bimbingan belajar, les prifat, dan lain-lain yang memoros pada sekedar tahu apa yang dipelajari. Ahirnya muncul anak-anak dan generasi muda yang cerdas, namun tidak disertai dengan optimalisasi otak secara spiritual dan emosional (sosial)
Optimalisasi otak emosional itu antara lain diperoleh melalui pendidikan budi pekerti /ahlak, dan pembangkitan sifat-sifat humanitas dan pemanusiaan pada umumnya. Fenomena kekerasan, perkelaihan pelajar, perbuatan asusila dan sebagainya yang menggejala ahir-ahir ini merupakan bukti nyata kegagalan asah otak emosional, karena itu justru dilakukan oleh mayoritas orang-orang yang tengah atau telah menempuh pendidikan tertentu.
Dr.Daniel Goleman Dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelegence, salah satu buku terlaris di Amerika Serikat bahkan di dunia ketika baru diterbitkan, telah mematahkan mitos otak kecerdasan, dengan sebuah teses mereka  bahwa’’otak kecerdasan (IQ) itu kurang bermanfaat secara signifikan dalam kehidupan tanpa kehadiran otak emosional (EQ), terutama dalam proses interaksi dengan teman sejawat dan pekerjaan. Paradigma dasarnya adalah: bahwa manusia berkualitas tinggi adalah mereka yang cerdas penalaran dan cerdas emosional. Bahkan Daniel Goleman mengestimasi bahwa sukses tidaknya seorang menjalani proses kemanusiaan, 80 persen disebabkan oleh EQ, dan IQ hanya 20 persen. Meski Goleman sendiri mengakui bahwa untuk jenis pekerjaan tertentu, hanya pekerja dengan IQ, tertentulah yang emosionalnya dapat berkembang.[9]
Pendapat Daniel Goleman tersebut kiranya bisa kita terima, mengingat tugas uatama pendidikan disekolah adalah mengoptimalkan seluruh kemampuan peserta didik. Ilmu pengetahuan saja tidak cukup tanpa ahklak. Maka dalam pendidikan Islam ahlak merupakan jiwa dari pendidikan Islam.Tanpa ahlak sehabat apaun ilmu yang dimiliki, tidak akan pernah berguna dan bermanfaat untuk kehidupan.
Proses pendidikan harus melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Tiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang bersinergi secara utuh. Jika salah satu tidak ada maka pendidikan tidak akan berjalan secara efektif. Dari proses kesadaran seseorang mengetahui tentang nilai-nilai yang baik (knowing the good), lalu merasakan dan mencintai kebaikan (feeling and loving the good) itu sehingga terpatri dalam jiwanya yang akhirnya menjadi berkakter kuat untuk melakukan kebaikan.
Feeling and loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi power yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Hakikat  loving pasti mengandung unsur pengorbanan dan keikhlasan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Dari dua aspek kesadaran mengetahui dan mencintai nilai-nilai kebenaran itu, seseorang akan ringan melakukan hal-hal yang baik dalam prilaku sehari-hari. Tiga proses tersebut secara terus menerus dilakukan dan dialami, sehingga menjadi endapan-endapan pengalaman. Dari endapan-endapan pengalaman itu berubah menjadi kebiasaan dan karenanya menjadi karakter yang kuat dan positif.
Menurut Abdullah Munir berpendapat bahwa kebiasan yang dilakukan secara berulang-ulang yang didahului oleh kesadaran dan pemahaman akan menjadi sebuah karakter seseorang, gen hanya menjadi salah satu faktor saja. Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, produk pendidikan sering hanya diukur dari perubahan eksternal yaitu kemajuan fisik dan material yang dapat meningkatkan pemuasan kebutuhan manusia. Produk pendidikan dapat menghasilkan manusia yang cerdas dan terampil untuk melakukan pekerjaannya, tetapi tidak memiliki kepedulian dan perasaan terhadap sesama manusia. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan menjadi instrumen kekuasaan dan kesombongan untuk memperdaya orang lain, kecerdikan digunakan untuk menipu dan menindas orang lain, produk pendidikan menghasilkan manusia serakah dan egois.
Distorsi nilai-nilai rohaniyah begitu nampak terlihat, seolah-olah nilai kemanusiaan telah mati, alat-alat diubah menjadi tujuan, produksi dan konsumsi barang-barang menjadi tujuan hidup, banyak manusia yang tidak tergetar hatinya ketika disebut nama Tuhan, tidak merasa takut dengan ancaman Tuhan, padahal sesungguhnya sebuah pendidikan harus dapat menghidupkan nuansa spiritual manusia, menumbuhkan nilai kemanusiaan dan ketuhanan dalam batinnya, di samping mengembangkan manajerial untuk memenuhi kebutuhan obyektifnya.
Ketidakberhasilan tertanamnya nilai-nilai rohaniah (keimanan dan ketaqwaan) terhadap perserta didik dewasa ini sangat terkait dengan dua faktor penting dalam proses pembelajaran di samping banyaknya faktor-faktor yang lain, kedua faktor tersebut adalah strategi dan metode pembelajaran serta orang yang menyampaikan pesan ilahiyah dari seorang pendidik.
Strategi pendidikan yang komprehensif, sistematis, aktual dan kontekstual  perlu diupayakan, terlebih strategi untuk mempersiapkan guru sebagai media transformasi pembelajaran perlu diberdayakan pada bidang kompetensi akademik, kecakapan, profesionalisme dan pemahaman cara beragama serta kemampuan analisa-kritis- kontekstual  sehingga apa yang diamanatkan dalam tujuan pendidikan Nasional dapat tercapai.
Selain itu pendidikan sejati merupakan proses pembentukan moral beradab, masyarakat yang tampil dengan wajah kemanusiaan dan pemanusiaan yang normal. Sekolah sebagai  ujung tombak proses pemanusiaan dan kemanusiaan telah diterima sepanjang sejarah dan peradaban mestinya tidak hanya tercermin dalam mentrasfer keilmuan. Namun lebih dari itu Sekolah  adalah salah satu bagaian yang fundamental dalam pendidikan maka harus mengoptimalkan segala kemampuan peserta didik sehingga peserta didik tidak hanya pandai dalam aspek intelektual tetapi juga matang secara spiritual dan sosial
Sebagai pelaku Utama pendidikan di sekolah Seorang guru /pendidik harus dapat menanamkan ahlak yang baik kepada para peserta didik. Penanaman ahlaqul karimah ini harus dimulai dari dirinya sendiri dulu. Karena melalui contoh dan ketauladanan guru siswa akan meniru dan mempraktekan ahlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian guru harus melatih dan mendidik para siswanya dengan pendidikan kejiwaan sehingga ahlak itu akan menjadi kebiasaan yang tertanam dalam jiwa mereka yang tidak akan terpisahkan dari kehidupan mereka.
Dari uraian diatas apabila dikaitkan dengan pengamatan peneliti, ternyata selama ini ada banyak sekali sekolah – sekolat yang hanya sekedar formalitas dan mentrasfer keilmuan semata tanpa mengembangkan seluruh aspek yang ada dalam jiwa peserta didik.  Selain itu dari beberapa hal yang peneliti amati diantaranya, sering kali disekolah terjadinya kekerasan fisik yang dilakukan oleh oknum guru terhadap siswanya, sikap guru yang kurang menghargai muridnya, mengeluarkan kata-kata kotor yang tidak senonoh kepada siawa, menghukum siswa yang telat dengan porsi hukuman yang tidak sebanding dengan kesalahanya, dan masih banyak lagi contoh-contoh perilaku di sekolah yang tidak mendidik.
Keadaan diperparah dalam pola pembalajaran yang cenderung satu arah, tidak mau menerima kritikan murid, datang dan masuk kelas pembukaan dan penutupan, nongkrong di depan kelas saat mengajar, asik ngobrol dengan temanya saat mengajar, dan lain-lain. Fenomena-fenomena tersebut diatas seringkali peneliti temukan di beberapa sekolah baik negeri maupun swasta.
SMPN 1 Jatipurno wonogiri sebagai salah satu lembaga pendidikan menengah dengan label SSN mestinya berbeda dan mempunyai cara – cara tertentu untuk mengembangkan seluruh aspek peserta didik melalui wadah sekolah mulai dari kepala sekolah, Guru, karyawan sampai pada pesuruh dan tentunya seluruh pihak yang terlibat dalam sekolah
Dari latar belakang tersebut diatas maka peneliti ingin meneliti tentang ”Peran Sekolah Dalam Menanamkan Akhlaqul Karimah Dan Kecerdasan Intelektual, Spiritual, dan Emosional  Pada Guru dan Siswa Di SMPN 1 Jatipurno Wonogiri
  1. Rumusan Masalah
Untuk membatasi permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini serta mempermudah analisis yang dilakukan maka dirumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut :
                                 1.         Bagaimanakah  peran   sekolah  dalam    menanamkan   ahlaqul   karimah   pada  guru dan Siswa di SMPN 1 Jatipurno Wonogiri ?
                                 2.         Bagaimanakah   upaya  Sekolah  dalam   menanamkan    kecerdasan    Intelektual, spiritual dan Emosional   pada  Guru dan  siswa di SMPN 1 Jatipurno Wonogiri  ?
                                 3.         Adakah   peran    Sekolah   dalam    menanamkan    ahlaqul   karimah   dan  kecerdasan Intelektual, spiritual dan Emosional pada Guru dan Siswa di SMPN 1 Jatipurno Wonogiri?

  1. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang peran sekolah  dalam menanamkan ahlaqul karimah dan kecerdasan Intelektual, spiritual dan Emosional Guru dan Siswa di SMPN 1 Jatipurno Wonogiri. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :
                                 1.         Seberapa  jauh  peran  sekolah   dalam   menanamkan  akhlaqul  karimah  pada guru dan siswa  SMPN 1 Jatipurno Wonogiri.
                                 2.         Upaya-upaya yang dilakukan Sekolah  dalam menanamkan   kecerdasan   Intelektual, spiritual dan Emosional pada Guru dan Siswa di SMPN 1 Jatipurno Wonogiri
                                 3.         Peran  dan partisipasi sekolah  dalam menanamkan akhlaqul karimah dan kecerdasan Intelektual, spiritual dan Emosional pada Guru dan Siswa di SMPN 1 Jatipurno Wonogiri

  1. Manfaat Penelitian
Sedang kegunaan dari dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, diantaranya :
                                 1.         Bagi pihak sekolah, sebagai upaya dalam memberikan pemahaman dan pengembangan dalam pendidikan terhadap Guru dan siswa, memberikan pemahaman agar tidak terjadi salah paham yang berkaitan dengan permasalahan yang disebabkan karena perilaku (akhlak) baik guru maupun siswa dan kondisi penanaman kecerdasan intelektual, spiritual dan  emosional Guru dan siswa.
Pembentukan budaya akhlaqul karimah  secara intens oleh diri dan sekolah merupakan media tumbuh dan berkembangnya kecerdasan intelektual, spiritual dan  emosional yang ideal pada kesadaran beragama baik bagi guru maupun  siswa. Diharapkan nantinya penelitian ini dapat dijadikan acuan dan panduan untuk menciptakan kultur kesadaran beragama, kerjasama (cooperative) dan spirit untuk saling tolong menolong diantara siswa, guru dan sekolah dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang ideal.
                                 2.         Bagi pengembangan ilmu, merupakan upaya pengembangan mutu kualitas pendidikan dan pola, teknik pengajaran guru pada umumnya dalam membangun kesadaran beragama pada Guru dan siswa. Pemahaman konsep akan pentingnya menumbuhkan semangat berakhlaqul karimah  dan kecerdasan emosional dengan baik adalah sebagai upaya menciptakan ide- ide, gagasan- gagasan ideal pada proses mewujudkan kesadaran beragama siswa sehingga proses input – proses – output pendidikan di sekolah agar dapat terealisasikan dengan baik.
                                 3.         Bagi peneliti, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan pengertian dan pemahaman baru tentang jalinan sinergis, interaksi antara akhlaqul karimah  dengan kecerdasan intelektual, spiritual dan  emosional yang terjadi pada Guru dan siswa sebagai upaya untuk menciptakan kesadaran beragama dan juga sebagai upaya untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif  di lingkungan sekolah . Selain itu merupakan upaya untuk menjawab dan mengungkap keingintahuan (curiousity) bagi peneliti tentang bagaimana peranan sekolah dalam menanamkan akhlaqul karimah dan kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional baik bagi guru maupun peserta didik yang terjadi di SMPN 1 Jatipurno.

  1. Sistimatika Pembahasan.
            Untuk menyajikan bahasan ini secara sistematis, maka penelitian ini dibagi menjadi lima bab. Secara berurutan dibahas pendahuluan, landasan teori, metode penelitian, hasil penelitian serta kesimpulan dan saran.
Bab I Pendahuluan. Berisi tentang latar belakang masalah,rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab II Landasan Teori yang berisi, Sekolah  dan peranannya dalam pendidikan, konsep tentang akhlak,  kedudukan ahlak  dan konsep tentang kecerdasan intelektual, spiritual dan  emosional
Bab III Metodologi Penelitian, berisi tengang jenis penelitian, waktu dan tempat penelitian, fokus penelitian, tehnik pengumpulan data dan tehnik analisa data.
Bab IV, Hasil penelitian yang berisi tentang data umum penelitian tentang SMPN 1 Jatipurno wonogiri . Data Khusus tentang peranan sekolah dalam menanamkan akhlaqul karimah dan kecerdasan Intelektual, Spiritual dan emosional pada guru dan siswa di SMPN 1 Jatipurno Wonogiri
Bab V, berisi kesimpulan dan saran, Bagian ini merupakan akhir dari sebuah tesis.














[1] Erich Fromm, Psychoanalysis and Religion (Yale University Press, 1972), 39
[2] As’aril Muhajir, Ilmu Pendidikan Perspektif Kontekstual (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2001), 38
[3] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama Sebuah Pengantar (Jakarta: Penerbit Mizan, 2004), 46
[4] Abdul Jalil Isa, Ijtihad Rasul SAW, terjemahan M. Masyhur Amin (Bandung: PT. Al- Maarif, 1980), 59
[5] Rahmat., op.cit., 27
[6] H.M. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogjakarta: Pustaka Pelajar,  1996), 99
[7] Prof.Dr.Sudarwan Danim, Agenda Pembaharuan Sistim Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), 63.
[8] Dr.M.Miftahul Ulum, M.Ag, Pengantar Ilmu Pendikan Islam (Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2007), 47
[9] Prof.Dr.Sudarwan Danim, opcit.hal 135-136

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar